27.4.10

senjaku adalah cintaku...


Sore yang seperti sebelumnya, selalu sama bahkan nyaris tak ada yang berubah. Hilir mudik para pekerja yang berjalan kaki, pedagang asongan, angkot yang berjejal yang seakan ingin melahap semua makhlik hidup yang ingin bergegas pulang. Sama seperti cahaya ini, merah kekuningan mendekati warna oranye. Hidup seolah tak pernah berputar walau kenyataan semua hal telah berubah. Terbangun dipagi hari bukan karena kewajiban kerja namun suara adzan yang terdengar nyaring ditelinga ini. Terkadang tinggal bersebelahan dengan musola kecil amat sangat mengganggu. Oke, mungkin mereka akan mengecap diri ini kafir biadab, dajjal masa kini, atau apalah yang terkesan berjiwa"iblis". Sempat kuberniat pindah dari kontrakan bobrok yang aku yakin jika ada angin kecil saja papan yang menjadi dinding rumah ini akan rata dengan tanah.

Lalu aku terpaksa terbangun, tak pernah terbesit dalam benak ini untuk bekerja sebelum matahari menampakkan cahayanya. Namun aku mempunyai penyakit yang cukup kronis. Jikalau aku sudah terbangun sulit untuk mataku ini terpejam lagi, dan menurutku itu sudah cukup kronis. Cap "kronis" yang aku buat sendiri, bukan dari lisan seorang dokter, bukan pula dari tulisan tangannya sang profesor berkepala botak. Boro-boro untuk kedokter atau konsultasi dengan profesor berkepala botak, lah wong buat makan sehari-hari saja aku harus mengayuh becakku ini. Demi anakku yang masih tertidur lelap. Aku selalu tersenyum bahagia jika melihat mereka berdua tertidur lelap. Kuusap keningnya anak pertamaku. Kubayangkan jika sang kakak kelak mampu menjadi seorang presiden atau menjadi seorang mentri, tak apalah
. Aku bosan dengan pemimpin negri ini. Yang ketika masa kampanye mereka sangat baik pada orang sepertiku. Memberiku beras, memberiku minyak goreng, uang, baju. Lalu setelah terpilih ia mengambil uang bermilyar-milyar, uang rakyatnya yang miskin. Aku akan mengajari sang kakak untuk selalu peduli kepada orang yang lebih "kecil", orang yang terhina, orang yang terpinggirkan, orang yang sudah tidak diperlakukan layaknya orang lagi. Agar kelak nanti sang kakak bisa menjadi seorang presiden atau mentri yang peduli akan manusia, bukan dengan uang. Lalu mataku berpaling ke sang adik. Aku selalu berharap jika ia besar nanti ia bisa menjadi seorang terkaya dinegri ini. Yang ketika ia mempunyai harta yang berlebih ia tidak menghamburkan uangnya dimeja sidang, tidak untuk para penjilat yang selalu menjilati pantatnya. Aku akan mengajari sang adik untuk lebih "melihat" sekitarnya. Bahwa kenyataan orang yang tinggal disebelahnya ini masih tidur beralaskan tikar, bahwa kenyataan masih makan dengan lauk garam dan sambal, bahwa kenyataan anak tetangga sebelahnya sering terbangun dan berkata pada emaknya, "mak aku lapar,". Bahwa kenyataan sang emak hanya berkata,"sabar yah nak...kita tunggu bapakmu pulang dulu,". Bahwa kenyataan hari itu bapaknya tidak pulang membawa uang sepeserpun.

Kembali kupandangi warna senja dijalan aspal. Wajahku tertunduk menatap bayang-bayang yang menutupi cahayanya. Kuangkat wajahku menatap langit agar pandanganku tidak tertutupi bayang-bayang yang mengganggu. Agar pandangan mataku terbebas menikmati hangatnya cahaya ini yang bercampur debu. Karena cahaya mentari bagiku adalah sebuah cinta. Hangat, begitu hangat seperti genggaman seorang kekasih yang begitu mencintai kita dengan sangat tulus. Seperti cintanya istriku pada raga dan jiwa ini. Seperti cintanya istriku kepada kedua buah hatiku yang kelak nanti akan menjadi presiden atau mentri dan menjadi orang terkaya dinegri ini. senjaku adalah cintaku...

7.4.10

romeo and juliet


Romeo dan Juliet merupakan contoh kisah cinta yang sempurna di kebudayaan barat. Bagaimanapun, dari pandangan yang cukup berbeda, kisah ini menjadi cerita inspiratif tentang dampak dari kebanggaan, kebencian dan peperangan. Kematian dua anak muda yang saling mencintai menampilkan keduanya sebagai hukuman dan pengorbanan—camkan setting tanah suci dan adanya tanda salib dan darah, seperti halnya masa muda si korban—yang menebus dosa ayah-ayah mereka. Kekuatan tragis pengorbanan yang sangat berharga ini mengalahkan perseteruan keluarga yang membenci satu sama lain dan paling tidak mempertimbangkan genjatan senjata sementara. Jika kita mengangkat topik tentang perang saudara, dan bukan potret tentang cinta ideal yang menjadi tema sentral Shakespeare, maka Montague dan Capulet adalah tokoh protagonis. Permusuhan mereka menentukan tahapan munculnya kejadian fatal yang akhirnya menghancurkan putera-puteri mereka. (Permusuhan mereka menjelma menjadi wajah bengis yang akhirnya menghancurkan putera-puteri mereka).

Kebencian antar tokoh senior Verona ditampilkan tanpa menjelaskan asal muasalnya dan langsung ditampilkan tanpa masuk akal (absurd) oleh istri-istri mereka dengan melarang mereka membunuh sesamanya, Lady Capulet yang mencegah suaminya, ‘Kruk, kruk (kayu penyangga)! Kenapa kamu meminta pedang?’ (1,i, 83). Hal ini juga ditampilkan serius oleh pangeran yang menetapkan hukuman mati karena berkelahi di jalanan Verona. Hal tersebut adalah kecongkakan ayah-ayah mereka yang keras kepala dan penolakan mereka untuk menyampingkan perbedaan mereka, bahkan kemudian penyebab perselisihan seperti dilupakan yang akhirnya berimbas kematian dua kekasih itu. Kesalahan karakter menjadi milik generasi paling tua, seperti halnya dalam tragedi puncak.

Perilaku ayah Romeo dan Juliet berkenaan dengan setiap perbedaan mereka secara jelas dibandingkan dengan perangai mereka pada keturunannya. Meski pengawasan Capulet pada puterinya menjadi sangat sering dalam satu adegan (3,v,142ff), kesungguhan cintanya pada sang puteri terus berlanjut. Ketulusan dan pengendalian dalam ucapannya, ketika mendapati puterinya meninggal di kamarnya menandakan kedalaman kasih sayang Capulet pada anaknya. (4,v,25ff).

Hal tersebut hanyalah bentuk ketulusan cinta seorang Capulet dan Montague pada anak-anaknya yang memanusiakan mereka dan menghindarkan mereka menjadi tokoh jenaka. Meskipun hanya perawat yang menceritakan kisah sentimentil penyapihan Juliet dan penurunannya sebagai seorang anak kecil (1,iii,11), gambaran ini memperkuat persepsi audiens tentang karakternya sebagai objek anak muda atas kasih sayang orang tua. Dalam segala hal, di samping kesungguhan cintanya pada Romeo, dia hanyalah seorang anak kecil dan anak yang tinggal dengan orang tuanya (1,ii,14).

Ketika Paris kali pertama meminta kesediaan Juliet, sangat jelas bahwa ayahnya—seperti pada banyak kasus tentang/yang sering terjadi pada anak perempuan di Eropa pertengahan (dan juga dalam periode romantisme kesusasteraan)—tidak melihat dia hanya sebagai upaya kemajuan sosial. Dia bahkan dia menyatakan bahwa dia lebih cenderung memberikan pilihan pada anak perempuannya yang berusia tiga belas tahun tentang masalah suami. Satu-satunya alasan dia pada kesungguhan sikap liberalnya ini dikarenakan kasih sayangnya pada puterinya.

Perhatian Montague pada kegundahan puteranya di permulaan babak (drama) pertama pun menunjukkan kelembutan yang tulus dari pihak ayah yang dia pertahankan sepenuhnya. Dengan membandingkan puteranya seperti ‘tunas yang digerogoti cacing yang cemburu/Kelak dia dapat menyebarkan dedaunannya yang indah ke udara,’ dia membela Benvolio muda, ‘Masih bisakah kita belajar dari mana duka citanya timbul/Kita akan dengan dengan sepenuh hati memberikan penyembuh yang kita ketahui’ (1,I,157).

Montague adalah sosok ayah yang melewati standar modern tentang sensitifitas orang tua. Tanggapan dia pada kerusuhan remaja puteranya mungkin berbeda dengan hubungan Henry IV dengan pangeran Hal. Bagian Pertama drama Henry IV dibuka dengan pangeran yang tengah mengalami tahap asusila yang parah. Keluhannya jauh berbeda dari Romeo, tetapi hal tersebut bukan karena kurangnya kedewasaan (sekalipun Hal mungkin lebih tua dari Romeo). Bagaimanapun, ayahnya melakukan pendekatan hubungan orang tua masa Elizabethan yang lebih konvensional, mengingatkan Hal akan tugas filialnya (sebagai seorang anak) dan memintanya dengan tegas agar dia berbuat baik dan berlaku benar (3,ii,4ff).

Barangkali masalah tanggung jawab masih sangat relevan/terkait bagi seorang ahli waris singgasana kerajaan daripada pasangan pemuda-pemuda Italia, dan hal ini sebagai alasan bahwa Raja fokus kepada serangan Hal pada dirinya dan reputasinya sendiri. Sementara Montague hanya prihatin terhadap kebahagian puteranya. Setidaknya, hal tersebut adalah tampaknya rasa kasih sayang Montague pada/hal tersebut adalah bukti seorang Montague begitu memanjakan Romeo yang membuat tragedi kematian Romeo lebih sebagai tragedi Montague daripada Romeo. Betapapun, simpulan sempurna seperti apakah yang bisa diharapkan seseorang dari cinta yang sempurna daripada untuk mengagungkan keabadian di sisi sesama? Hal tersebut adalah orang tua mereka yang hancur ditinggalkan dengan hilangnya segala tempat harapan mereka. (1,ii,14)

Mungkin Shakespeare, di balik perang saudara antara Montague dan Capulet, berniat menyajikannya sebagai latar belakang atas gambarannya tentang perjalanan tragis sebuah cinta yang ideal. Atau mungkin dia, di balik kematian dua anak muda, berniat menunjukkannya sebagai konsekuensi tragis dari kebencian yang tak kunjung usai. Dia sendiri adalah kedua pecinta tersebut yang menulis soneta, sekaligus seorang ayah dari anak muda dan dia mampu memaparkan kedukaan setiap tragedi. Barangkali dia paham tema lakon akan berubah ketika kita, sang audiens, bertambah dewasa, ketika kita menjadi kurang yakin bahwa gairah masa muda adalah akhir segalanya dan seluruh eksistensi (keberadaan), ketika kita tidak rela memaafkan Friar Lawrence yang melakukan penipuan pada orang tua Juliet.(4,v,33) Tetapi hal ini akan mengasumsikan bahwa dia menulis demi anak cucu daripada terpenuhinya persyaratan/kebutuhan tahapan Elizabethan. Hal ini ada kemungkinan bahwa dia telah memandang drama sebagai keutuhan organik, dengan tanpa kebencian orang tua pada orang tua, cinta orang tua pada sang anak, maupun cinta sang anak pada anak sebagai hal yang paling utama/tidak ada yang terdepan, baik itu kebencian antar orang tua, cinta orang tua pada sang anak maupun cinta antar sang anak. Seagung-agungnya emosi manusia, ia tidak pernah berlaku di ruang hampa.

Shakespeare, William. ‘Romeo and Juliet.’ Five Tragedies. Ed. C.H. Hereford. Arden Shakespeare. London: D.C. Heath, 1916. v-235.

5.4.10

“Atheisme” yang (Tidak) Bertuhan


Atheisme sering dikatakan sebagai paham yang tidak mempercayai Tuhan, baik itu keberadaannya maupun perannya dalam kehidupan manusia. Sulit untuk merunut sejak kapan paham ini ada di muka bumi. Walaupun demikian, banyak orang yang mengklaim bahwa dirinya atheis. Atheisme mulai diberikan landasan rasional ilmiah ketika Ludwig Feuerbach menerbitkan karyanya The Essence of Christianity dan melakukan kritik agama khususnya agama Kristen.
Atheisme model Ludwig Feuerbach adalah filsafat model “tak lain daripada…”. Hal ini karena pemikiran yang diajukan hanya melihat sesuatu dibalik/dibelakang masalah yang dibicarakannya. Bukannya secara jujur mengungkapkan kebenaran dan kesalahan dari agama tapi langsung masuk kedalam adanya sesuatu di balik layar dari agama itu : “bahwa agama tak lain daripada….”. Landasan filosofis ini sering disebut dengan nama Reduksionisme.
Dalam tulisan ini saya hanya mengungkapkan 4 landasan berpikir para pemikir aliran utama atheisme, tentunya dengan penjelasan singkat ala kadarnya. Keempat pemikiran itu, yang mempelopori filsafat kritis terhadap agama, adalah Ludwig Feuerbach, Sigmund Freud, Friederich Nietzsche, dan Jean-Paul Sartre.
1. Atheisme Ludwig Feuerbach
Feuerbach adalah orang yang pertama kali memberikan landasan rasional ilmiah terhadap atheisme. Dia juga adalah salah satu pendukung filsafat dialektis Hegelian. Alih-alih mendukung sepenuhnya konsep hegelian, hal yang menurutnya bertentangan antara dirinya dengan konsep Hegel adalah tentang sesuatu yang nyata dan rasional. Bagi Feuerbach, manusia adalah nyata dan rasional, sedangkan roh semesta (yang dinyatakan oleh Hegel dan diasosiasikan dengan Tuhan/Allah) adalah sesuatu yang tidak nyata.
Bagi Feuerbach, agama adalah proyeksi manusia atas keterasingan dirinya. Agama menjadi tempat bagi manusia untuk mengasingkan dirinya dari kehidupannya. Sebagai proyeksi, agama tak lain dari sesuatu yang diberikan penghargaan positif terhadap dirinya. Segala konsep tentang Tuhan, Malaikat, Surga, dan Neraka yang ada dalam agama tak lain daripada hasil proyeksi manusia itu sendiri. Dengan kata lain, manusia yang mengkonsepkan hal-hal itu. Manusia yang menciptakan Tuhan, dan bukan Tuhan yang menciptakan manusia.
Agama berdampak positif bagi manusia. Segala sesuatu yang Maha, misalnya Adil, Baik, Penyayang, Pengampun, dll yang ada dalam Tuhan Agama, tidak lain daripada proyeksi manusia itu sendiri. Hal itu sebenarnya telah ada dalam eksistensi manusia. Bukannya menjadikan sesuatu yang Maha itu menjadi milik manusia, manusia justru terjebak dalam pemujaan dan penyembahan kepada agama dan Tuhan yang sebetulnya telah berada dalam dirinya dan menjadi miliknya. Oleh karena itu, manusia harus mengambil kembali ke-Maha-an itu kedalam dirinya. Agama dan Tuhan bukan lagi merupakan sesuatu yang menjadi pusat bagi manusia, tetapi justru manusialah pusat dari segalanya.
2. Atheisme Sigmund Freud.
Sigmund Freud adalah seorang psikiater yang menciptkan dan mengembangkan metode Psikoanalisis. Suatu metode/teori yang kemudian menjadi salah satu aliran besar dalam psikologi. Freud mengikuti alur berpikir Feuerbach dengan filsafat reduksionisme-nya bahwa agama “tak lain daripada…”
Buku karya Freud yang menyatakan atheismenya adalah Totem and Taboo (1913) dan Moses and Monotheism (1938). Menurut Freud, ritual-ritual keagamaan mempunyai kemiripan dengan ritual yang ada dalam gangguan obsesif-kompulsif. Obsesif-kompulsif adalah suatu gangguan psikologi (psychological disorder) dimana seseorang tidak mampu menahan keinginannya untuk melakukan suatu gerakan/aktivitas berulang-ulang, misalnya mencuci tangan berkali-kali, dll. Freud juga mengatakan “neurosis as an individual religion, religion as a universal obsessional neurosis”. Suatu pernyataan yang jelas mengaitkan antara agama dan neurosis.
Dilain pihak, Freud juga mengatakan bahwa agama tak lain daripada sublimasi insting-insting seksual. Teori Psikoanalisis Freud dibangun diatas satu konsep yang disebut Psikoseksual, bahwa dorongan-dorongan seksual (sexual drive/libido) adalah dorongan yang terutama dalam diri manusia yang membuat manusia itu bisa bertahan hidup. Sedangkan sublimasi adalah salah satu mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) yang dibangun manusia untuk menyeimbangkan egonya dari dorongan-dorongan yang berasal dari ketidaksadaran. Insting-insting seksual manusia harus diberi bentuk lain agar dapat diterima secara sosial, dan semuanya itu ada dan tampak dalam agama. Agama adalah sublimasi dari insting-insting seksual manusia agar dapat diterima oleh masyarakat.
3. Atheisme Friederich Nietzsche.
Whiter is God, ‘he cried. ‘I shall tell you. We ahve killed Him-you and I. All of us are murderers…God is dead. God remain dead. And we have killed him…” (Friederich Nietzsche, The Gay Science, 1882).
Kutipan diatas adalah salah satu pernyataan Nietzsche dalam bukunya. “God is Dead” yang dikatakan oleh Nietzsche bukanlah pengertian Tuhan secara literal. Jika Tuhan telah mati berarti pada suatu saat Tuhan pernah ada. Apa yang dinyatakan oleh Nietzsche adalah kematian keagamaan di Eropa. Pengertian God is Dead adalah Tuhan dalam konteks kekristenan di Eropa. Bahwa kepercayaan terhadap Tuhan (pada saat itu adalah Kristen) adalah kepercayaan yang salah. Tuhan tidaklah lagi dapat dipercayai, dan oleh karena itu Dia telah mati, dan seandainya Dia belum mati, adalah tugas manusialah untuk membunuhnya (and we have killed him…).
Pandangan Nietzsche melegitimasi pandangan dalam bidang keilmuan (science) bahwa ilmu pengetahuan akan mengeluarkan Tuhan dari ranah kehidupan manusia. Filsafat, ilmu pengetahuan, politik dan bidang-bidang lain akan memperlakukan Tuhan sebagai sesuatu yang tidak relevan dan tidak humanis.
4. Atheisme Jean-Paul Sartre
Sartre adalah salah satu tokoh terkemuka dalam Filsafat Eksistensialis. Dia adalah orang yang pertama kali menyatakan bahwa eksistensi mendahului esensi. Atheisme adalah salah satu inti dari filsafat Sartre.
Sartre menolak konsep tentang Tuhan karena konsep Tuhan berisi kontradiksi dalam dirinya sendiri (self-contradiction). Sartre mendefinisikan Tuhan sebagai konsep yang being-in-itself-for-itself. Konsep Tuhan sebagai in-itself memproposisikan bahwa Dia adalah eksis, sempurna dalam dirinya sendiri, dan secara total tidak relevan. Sedangkan konsep for-itself memformulakan bahwa Dia adalah bebas secara sempurna dan tidak terikat terhadap apapun. Kesimpulan logika haruslah menolak konsep seperti ini karena konsep ini berisi kontradiksi dalam dirinya. (Jean-Paul Sartre, Being and Nothingnes : An Essay in Phenomenological Onthology, 1943).
Selain itu, konsep keberadaan Tuhan membatasi kebebasan dan eksistensi manusia. Konsep Tuhan diadopsi oleh manusia untuk memberiarti dunia ini. Manusia menemukan konsep ini untuk menerangkan sesuatu yang tidak dapat diterangkan (explain the unexplainable). Konsep Tuhan adalah keinginan manusia untuk memenuhi ketidaksempurnaan dan ketidakmampuannya.
=============
Konsep-konsep atheisme diatas dapat berkembang menjadi pemikiran-pemikiran baru dalam aliran-aliran atheisme. Dan perdebatan seputar konsep ini masih terus berlanjut.

2.4.10

kata2 bijak paraatheis


gue bukan pembuat kata2 dibawah, tapi cuma ambil quotes dari orang2nya... sekedar bacaan aja untuk menambah wawasan dan menambah sudut pandang dalam hidup[/COLOR]

Quote:
# Two hands working can do more than a thousand clasped in prayer. – Anonymous
(dua tangan yg bekerja bs mlakukan lbh bnyk dr pada seribu tangan berdoa)

# You’re basically killing each other to see who’s got the better imaginary friend.-Richard Jeni
(km pada dasarnya saling membunuh satu sama lain untuk mnunjukan siapa diantara kalian yg memiliki teman imajinatif yg lbh baik.)

# The fact that a believer is happier than a skeptic is no more to the point than the fact that a drunken man is happier than a sober one. The happiness of credulity is a cheap and dangerous quality. – George Bernard Shaw
(fakta bahwa org yg beriman lbh bahagia dbanding org yg tidak, tdk lebih dr pada fakta org mabuk lbh bahagia dr pada org yg sadar. kbahagiaannya berkualitas murahan dan berbahaya.)

# Faith means not wanting to know what is true. – Friedrich Nietzsche
( kepercayaan berarti tidak berkeinginan untuk mngetahui KEBENARAN)

# I believe in God, only I spell it Nature. – Frank Lloyd Wright
(aku percaya tuhan, hanya saja aku mengejanya alam)

# We must question the story logic of having an all-knowing all-powerful God, who creates faulty Humans, and then blames them for his own mistakes. – Gene Roddenberry
(kt hrs mempertanyakan logika dr kisah seorang tuhan maha tau dan maha kuasa, yg mnciptakan manusa yg penuh kesalahan, dan mnyalahkan mrk untuk ksalahan dirinya sndiri)

# To surrender to ignorance and call it God has always been premature, and it remains premature today. - Isaac Asimov
(mnyerah kepada ktidak pedulian dan menyebutnya tuhan adalah terlalu cepat mngambl ksimpulan dan belum waktunya, dan smpe skrg pun ttp begitu)

# A man is accepted into a church for what he believes and he is turned out for what he knows. – Samuel Clemens (Mark Twain)
(seorang manusia diterima dalam gereja atas apa yg dia percaya, dan dia di tolak atas apa yg dia ketahui)

# Religion is regarded by the common people as true, by the wise as false, and by the rulers as useful. – Seneca the Younger (indonesia bgt!!)
(agama dianggap oleh awam sbagai kebenaran, oleh org bijak sbagai kesalahan, dan oleh pnguasa sbagai sesuatu yg bs dimanfaatkan untuk kpentingannya)

# Philosophy is questions that may never be answered. Religion is answers that may never be questioned. – Anonymous
(filosofi adalah pertanyaan yg mungkin takan pernah terjawab. agama adalah jawaban yg mungkin takan pernah dipertanyakan)

# Not only is there no god, but try getting a plumber on weekends. – Woody Allen
(bukan hanya skedar tuhan itu tidak ada, tp cb saja mncari seorang tukang pipa pada hari libur)

# If I were not an atheist, I would believe in a God who would choose to save people on the basis of the totality of their lives and not the pattern of their words. I think he would prefer an honest and righteous atheist to a TV preacher whose every word is God, God, God, and whose every deed is foul, foul, foul. – Isaac Asimov
(jika aku bukan seorang atheis, aku akan percaya pada tuhan yg akan memilih untuk mnyelamatkan org berdasarkan totalitas dr hidupnya dan bukan berdasarkan pola dr kata2nya. kupikir tuhan lbh memilih seorang atheis yg jujur n berbudi, di banding seorang pengkotbah di TV yg stiap kata2nya slalu TUHAN, TUHAN, TUHAN, tp perbuatanya KOTOR, KOTOR, KOTOR!)

# Belief in the supernatural reflects a failure of the imagination. – Edward Abbey
(percaya pada supranatural mencerminkan kegagalan dalam berimajinasi)

# With or without religion, you would have good people doing good things and evil people doing evil things. But for good people to do evil things, that takes religion. – Steven Weinberg
(dengan ato tanpa agama, tetap akan ada org baik yg berbuat baik, dan org jahat yg berbuat jahat. tapi untuk membuat org baik melakukan hal jahat dibutuhkan agama)

# I still say a church steeple with a lightning rod on top shows a lack of confidence. – Doug McLeod
(saya tetap berpendapat, sbuah menara gereja dgn sbuah tiang pnghantar petir di atasnya mnunjukan kurangnya percaya diri)

# The world holds two classes of men – intelligent men without religion, and religious men without intelligence. – Abu’l‐Ala al Ma’arri
(dunia ini mngandung 2 kelas manusia - org pintar yg tak beragama, dan org beragama yg tak pintar)

# Since the Bible and the church are obviously mistaken in telling us where we came from, how can we trust them to tell us where we are going? – Anonymous
(sejak kitab suci dan alkitab sudah jelas keliru dalam memberitahu kita tentang dr mana asal muasal kita, bgaimana kt bs percaya agama untuk memberitahu kt kmana kt akan pergi)

# I distrust those people who know so well what God wants them to do because I notice it always coincides with their own desires. – Susan B. Anthony
(aku tidak percaya org2 yg tau apa yg tuhan ingin mereka lakukan, krn aku mnyadari bahwa itu slalu kbtulan jika keinginan mereka dan tuhan sama)

# The invisible and the non-existent look very much alike. – Delos B. McKown
(yg tidak terlihat dan yg tidak ada trlihat sangat mirip)

# Atheism leaves a man to sense, to philosophy, to natural piety, to laws, to reputation; all of which may be guides to an outward moral virtue, even if religion vanished; but religious superstition dismounts all these and erects an absolute monarchy in the minds of men. – Francis Bacon
(Ateisme menuntun manusia kepada akal sehat, filosofi, kearifan alam, hukum, dan reputasi; yang salah satu atau semuanya menuntun pada kebajikan moral di luar kebiasaan, meskipun agama telah musnah; tetapi takhayul agama menurunkan semua ini dan mendirikan monarki absolut dalam pikiran manusia) thx to bro m4rdy

# The God of the Old Testament is arguably the most unpleasant character in all fiction: jealous and proud of it; a petty, unjust, unforgiving control-freak; a vindictive, bloodthirsty ethnic cleanser; a misogynistic, homophobic, racist, infanticidal, genocidal, filicidal, pestilential, megalomaniacal, sadomasochistic, capriciously malevolent bully. – Richard Dawkins
(tuhan dalam kitab perjanjian lama adalaha karakter yg paling tidak mnyenangkan dlm smua karya fiksi: iri dan bangga akan itu, picik, tidak adil, tidak pemaaf, gila control, pndendam, haus darah, penghapus etnis, pmbenci wanita, mrasa puas kl mnyakiti, rasis, perusak,gila kmuliaan, bnyk tingkah, pnindas yg lemah)

# It is not as in the Bible, that God created man in his own image. But, on the contrary, man created God in his own image. – Ludwig Feuerbach
(bukan sperti dlm alkitab, bawha tuhan mnciptakan manusia bercerminkan dirinya sndiri, tp kbalikannya, manusialah yg mnciptakan tuhan dr cermin atas diri manusia sndiri)

# All the biblical miracles will at last disappear with the progress of science. – Matthew Arnold
(smua keajaiban dalam alkitab pada akhirnya akan hilang dgn kmajuan teknologi dan ilmu pngtahuan)

# Blind faith is an ironic gift to return to the Creator of human intelligence. – Anonymous
(kpercayaan yg buta adalah sbuah hadiah yg ironis untuk dberikan kpada pncipta kpintaran manusia)

# Be thankful that you have a life, and forsake your vain and presumptuous desire for a second one. – Richard Dawkins
(bersukurlah sudah bs mndapatkan khidupan. tinggalkanlah pmikiran angkuh dan sia2 akan keinginan punya khidupan kdua )

# What can be asserted without proof can be dismissed without proof. – Christopher Hitchens
(apa yg di nyatakan tp tanpa bukti, bs di bubarkan tanpa bukti jg)


# Sering kali seorang atheis melakukan kebaikan kepada sesama lebih tulus daripada orang beragama..kenapa? karena orang beragama berharap surga dibalik perbuatannya, sementara atheis tidak.. -Fransiscustedja

1.4.10

bicara jorok dilarangkah???


Saya hidup dikelilingi manusia-manusia yang tidak menganut cara bicara aristokrasi Inggris. Bingung khan lo? Begini nih maksudnya: mereka suka omong jorok dalam segala situasi. Entah sedang girang atau gregetan, santai maupun uring-uringan, kata-kata jorok selalu dengan mudah ditemui dalam percakapan-percakapan. Dan tentu tak ada diantara kami yang berdarah biru Buckingham. Orang Inggris dan aristokratnya, terutama, terkenal sebagai penutur oral yang sopan. Dan ngga cuma Inggris, memang. Semua bangsawan di semua ras memiliki ciri ‘kehalusan’ tertentu menyangkut budaya-tutur. Semacam ada konvensi tak tertulis yang secara ketat mengatur pembawaan diri untuk berkomunikasi dengan orang lain; selain juga menyediakan rujukan kosakata-kosakata apa saja yang tercela dan yang tidak. Di luar konvensi itu: barbar. Ada begitu banyak kosakata yang haram untuk diucap oleh orang ‘sopan’ di muka umum. Mau saya rinci? Jangan, ah… . Muke lo khan umum. Jadi saya terpaksa harus membatasi ngomong jorok di catatan ini, tho. Lagipula Anda pasti sudah tahu kata-kata itu mencakupi apa saja—biasanya menyangkut organ dan kegiatan reproduksi, atau nama-nama hewan tak berdosa, atau kata-kata sifat jelek yang ekstrim dan benda-benda najis. Sebagai ganti, saya mau merinci ini saja: siapa sajakah pihak yang bermulut kotor?

Begini. ‘Kasta’ yang terendah ialah mereka yang menganut paham ngomong jorok sebagai tren. Atau sebagai gaya kotor? hidup. Yang termasuk golongan ini: ABG, misalnya. Atau pasangan yang terpengaruh bokep bajakan (di sini ngga ada bokep yang pake label resmi, Bro…), lalu jadi ikut-ikutan talking dirty during intercourse. ABG punya tipikal mencari-cari perhatian dari lingkungannya; makin jorok bicara, makin cool. Dapat dikatakan budaya omong jorok ini dianut dengan model yang sama-sebangun dengan cara mereka memilih kostum pesta. Makin jorok bicara, bakal makin kelihatan kaya rapper. Fak this fak that, syit this syit that. Udah kaya di Bronx saja. Contohnya macam sodara saya, seorang mahasiswa super sibuk mengklaim dirinya penganut agnostic dan sangat menghormati kedua orang tuanya, berinisial AJP....
Semua kata benda di kalimat-kalimat dari mulutnya pasti selalu diimbuhi kata cuki e ini cuki e itu. Pas bokek dia rutin merayu, ‘Yow, iwan…, c’mon yow lend me some fakin recehan goban... bla-bla-bla…’ . Lain waktu kalau tititnya atit akibat over fitness, dia pasti mengutuk mengutuk fakin dick! fakin dick! fakin ulekan! Astaghfirullah… . Padahal jelas-jelas karena fitnes di saat badannya lagi kurang fit. atau pernah suatu kali dia sakit gigi dan cuki gigi eeeee, puki eee gigi saki ee... (mmm... mana ada sih gigi yang bisa senggama.???))

Di kasta kedua terdapatlah kaum moderat. Yaitu penutur jorok yang memang biasa ngomong jorok sebagai bagian dari ekspresi kebudayaan egalitarian (aduhai, rancak nian bahasanya…). Saya barangkali termasuk di sini. Sebab, seperti saya katakan tadi, saya dibesarkan di keluarga yang punya tradisi lisan rada-rada jorok yang jauh dari standar aristokrasi. Saya ingat sekali dulu nenek saya mengomel-ngomeli kelinci peliharaan di rumah pakai bahasa daerah jika si kelinci makan terlalu rakus. ‘woi…, kelinci biadab,. cu(sensor)mai!’ (Tadinya saya pikir kelinci ini dikutuk biar kena sakit kolera di pantatnya. Belakangan baru saya paham bahwa arti kalimat itu ternyata jauh lebih grindcore dari yang saya duga. Benar-benar sadis… Saya sendiri akan menegur teman saya kalau mereka ketahuan mojok dengan sindiran, ‘Je(sensor)ut baru tiga lembar aja udah sok mau pacaran lo…’—merujuk pada rumpun rimbun tertentu di bawah perut.
Maaf kalau vulgar. Tapi menurut saya hal ini tidak jorok, lho. Ini ekspresi budaya, kawan. Tradisi umum di kalangan rakyat biasa macam saya. Gampang ditemukan. Coba main saja ke Condet. Atau keCiganjur, (daerah kawan saya duluuu banget). Keduanya enclave komunitas Betawi yang luas. Perhatikan saja dialog para emak dan engkong yang ngrumpi di teras-teras. Wuih, dahsyat belaka, Bro… . Pemilihan diksi-nya itu loh…alih-alih kecil, itil; alih-alih tegak, ngaceng. Diantara kaum emak-emak, teman ibu kos saya mak ijah (keturunan betawi tinggal di sleman), niscaya paling pantas bergelar+ Ph.D dalam ilmu ngomong jorok. Beliau masuk Hall of Fame di di otak saya. Semacam thesaurus hidup yang memberikan semua entri vocabulary jorok yang pernah beredar di bumi jakarta sepanjang sejarah. Terakhir, Idul Adha kemarin teman beliau sempat bikin kekacauan kecil saat dengan polosnya berteriak-teriak di depan publik, ‘Oy, entu bandot nyang item peler-nya buat gua, peler-nya buat gua oooy!’ (…yang mana teriakan tersebut sedikit masuk ke Toa masjid…) Dan tentu saja, beliau latah. Latahnya ini berstruktur, lho. Maksudnya begini: beliau melafalkan kata klasiknya—yaitu apalagi kalau bukan ‘ko(sensor)ol’—hanya jika kaget atau dikageti oleh suara/bunyi non-artikulatif, seperti bunyi mangkok pecah, balon meledak, atau suara orang sengaja mau ngagetin dengan teriak HWA! atau JGER!!! Maka, musim hujan ini saban terkejut-kejut karena bunyi geledek beliau akan melagukan litani andalannya, ‘Eh, ko(sensor)ol—ko(sensor)ol—
ko(sensor)ol—ko (sensor)ol…’ . Namun sebaliknya bila beliau sengaja dikageti dengan bunyi artikulatif, maka beliau akan otomatis /mengulang suku-suku-kata terakhir yang diucapkan lawan bicaranya itu. Contohnya, kalau orang bicara, “…bener ape kaga, NYAK???”—dengan berteriak penuh pada kata ‘nyak’—maka beliau akan melatah, ‘Eh, enyak—enyak—enyak, dah enyaaak…’
“KUTIL!!!”

‘Eh, kutil—kutil—kutil, dah—kutiiil…’.

Dengan basis saintifik inilah (caelah…), saya sering memanfaatkan beliau dengan culas. Kalau saya minta didoakan oleh beliau, saya akan bilang, ‘Nyak, doain gue bulan ini dapet fulus banyak biar kapan ari gituh gue bisa naek aji ya, Nyak. Doain nenek gue tetep sehat keja masi bisa joged ya, Nyak.
Lalu saya bentak, ‘AMEEEN!!!’
‘Eh, amin—amin—amin, dah—amiiin…’. (Rumusnya, makin banyak dikasih amin, doa akan makin mujarab)
(sisipan sejenak, by the way, Anda kenal istilah onomatopi? Nih, ada bahan tambahan buat pengetahuan umum Anda: onomatopi ialah pola atau proses pembentukan kata yang memakai pendekatan bebunyian dari kegiatan objeknya. Misalnya dalam ‘nyamuk mendengung’. Kata ‘dengung’ ini onomatopik. Begitu pula kodok ‘mengorek’. Adik sedang ‘cebok’. Ayah ‘cepirit’, ibu ‘menabok’. Dan sebagainya. Nah, di daerah bantul ini, aktivitas seksual di-onomatopi-kan jadi ‘timplik' tau deh dari mana dan dengan logika apa frasa itu tersusun. Saya bukan ahli bahasa, Bro)Lebih jauh, sebagai ekspresi budaya, omongan kasar dan jorok dari arek Surabaya—atau daerah pemangku sub-kultur-non-keraton lainnya—juga dapat dijadikan rujukan. Kita tahu dalam hal arek ketemu arek, pembicaraan yang terjadi selalu jauh dari suasana formal. Segala jenis satwa, anunya si ini, anunya si itu, jaancuk, ndhas-mu etc akan spontan keluar begitu pula di maluku tempat asal saya, hei kawan, cuki ee beta beta cari ale dari tadi ni sampe cape e (kurang lebih semacam itu). Hal ini bukan pencederaan norma, bahkan sebaliknya justru tanda keintiman hubungan sosial antar kawan. Sebuah kekayaan budaya yang ngga gampang dimengerti oleh mereka yang bergelar ‘Sir’ sekalipun. Berlanjut ke strata ketiga. Strata yang ketiga ialah: mereka yang ngomong jorok sebagai ‘parodi kemanusiaan’. Nah, ini yang rada berat, Bro. Susah banget menjabarkan konsepnya. Tapi singkatnya begini: mereka ialah pihak yang memiliki wawasan kebahasaan yang luas dan sekaligus memasabodokan konvensi umum tentang cara-cara dan norma-norma manusia berbicara. Lebih singkat lagi: kaum nyentrik dan parodik.


Di jajaran ini, kalau kita mau jauh-jauh menggali khasanah literatur esoterik, kita akan ketemu para filsuf bahasa, guru-guru besar Zen, para sufi, komedian-komedian atau ilmuwan-ilmuwan sinting—yang piawai mengajarkan bahwa sistem-bahasa ngga punya juntrungan eksak dengan makna; dan ngga terikat secara abadi dengan substansi yang ‘ditandai’-nya. Beberapa dari teks-teks mereka amat sangat jorok jika dinilai dengan standar ‘moral’ konvensional (baca: standar hipokrit yang dibiuskan dan dipasarkan televisi Indonesia).
(Maapin gue, ye… . Elu-elu pan udah pada tau, kalo gue ngomong tinggi kaya gini, itu artinye gue
pengen begaya… . Dan jika Anda tak mengerti bulshit-an saya yang terakhir ini, main dong sekali-kali ke perpustakaan. Atau lebih instan-nya, hadirilah Ma’iyah Kyai Kanjeng yang rutin diselenggarakan setiap bulan, tanggal 17, di Kasihan, Bantul, Jogjakarta. Di sana sedikit-banyak Anda bisa merasakan ‘atmosfir kemerdekaan berbahasa’—sebuah upaya komunikasi yang jorok namun sarat dengan isu kebudayaan)

Well, that’s that’s it about people talking dirty. Sekarang pertanyaannya ialah: apakah sebenarnya sifat ‘jorok’ itu? Saya beranggapan, omong jorok ialah bukan harfiah semata-mata berupa tindak menyebutkan kata-kata yang disensor seperti di atas itu. Saya punya pengertian lain yang lebih konotatif tentang jorok. Menurut saya ‘jorok’ artinya hanya satu: manipulatif. ‘Jorok’ sangat berbeda dari jorok biasa. Ngomong ‘jorok’ adalah segala bentuk komunikasi yang penuh manipulasi. Meliputi berbohong, berpura-pura dan ber-eufimisme.
Sodara saya AJP dan tetangga kawan si ibu kos, mak ijah, suka bicara kotor; apakah hal itu menandakan kebobrokan jiwa, karena substance kekotoran memroyeksikan dirinya dalam bentuk ucapan-ucapan lahir yang tak senonoh itu? Apakah mereka asosial, karena melanggar norma kesopanan? Saya rasa tidak demikian. Subjektif, mereka orang-orang jujur yang amat jarang berdusta. Kalau saya, jelas sekali saya ‘jorok’, sebab saya masih setia memupuk hobi berbohong dan suka bicara seenak udel. Entah itu white lie, black lie, grey lie, ganggangsulai etc—pokoknya saya doyan ngibul, titik. Saya merasa diri ‘jorok’ karena saya percaya indikator sejati tentang ‘kejorokan’ selalu melekat pada ‘substansi’.
Mak ijah memang suka ber-kontol-kontol-ria (pliz…, terimalah kata-kata ini dengan lapang dada, kawan…hehehe). Tapi beliau selalu jujur bersikap dan berkata-kata pada siapapun. Kalau dirasanya seseorang tak membuat nyaman, dengan lugas beliau akan menunjukkan sikap antipati—tanpa seni hipokrisi yang dibuat-buat sebagaimana yang biasa kita temui dalam situasi seorang profesional public relation berhadapan dengan customer rewel yang banyak menuntut macam-macam. Beliau tak akan pernah berlindung dalam senyum komersial para frontliners perusahaan-perusahaan jasa yang kinerjanya buruk (yang mungkin menganggap semua pelanggan, terutama yang laki-laki, akan mudah dijinakkan dan ogah complain demi seulas senyum perempuan). Karena itu Mak Ijah tak harus mengikuti kursus-kursus kepribadian untuk mendapatkan ‘kemanusiaan’-nya—karena menjadi beradab punya arti tak sesederhana
sekadar tidak ngomong jorok.

Mak Ijah jelas bukan bangsawan Inggris. Dia buta table-manner, dan warna kulitnya sekelam karbon. Kalau sedang kesal ya dia ngomong jorok, dong. Straight. Tanpa basa-basi protokoler. Langsung saja ngentat-ngentot, fokang faking. Bandingkan dengan Sir-Sir bule itu. Se-mangkel-mangkel-nya, paling banter mereka akan berucap, ‘Semoga lumpur terpercik ke wajahmu…’. Itu sudah merupakan pengungkapan yang sangat kasar. Klab-klab rotary mereka senantiasa menjadi ajang bertata-krama, smart conversations, basa-basi sanjung-sanjungan, sementara hati penuh intrik-intrik persaingan bisnis untuk dulu-duluan menangguk untung dengan mengibuli elit-elit di tanah jajahan, menumpahkan darah. Kibul sana kibul sini. AJP? Ah, dia mah cemen. Dia ngga pernah sampai hati ngibulin pacarnya sendiri. maki anak kecil di jalanan di kota ambon aja mikir2. Teladani Bush. Kepala negara dan kepala pemerintahan negara lain selalu punya kesan bahwa Bush seorang gentleman. Pria yang alim, hangat, supel dan sopan dalam interaksi personal. Mulutnya akrab dengan Gospel-Gospel, Tuhan menyertai Amerika. Tapi dikadalinya seluruh dunia dengan fitnah atas
sistem persenjataan Baghdad. Ia sampaikan apologi dusta setelah 9/11, sambil enak-enakan wakuncar ke Camp David, sambil Laura mem-blowjob-nya di kamar mandi. Tangan yang kiri menggenggam kontrak minyak sedang yang kanan memijat tombol mesin pembunuh 655 ribu warga sipil Irak yang tak punya salah apa-apa pada nenek moyangnya. Duh, Gusti, ngga akan ada satu kata nista terjorok yang bisa mengapresiasi ‘kejorokan’ ini.

Jadi, mana yang lebih jorok, AJP dan tetangga kawan si ibu kos, mak ijah, atau para caleg yang

janjinya manis saat kampanye? Mereka, ataukah seorang pemimpin satu negara miskin yang mengingkari

janji bantuan untuk para korban sebuah gempa yang menewaskan 5000 jiwa lebih? Mereka, atau iklan

suatu produk yang mengandung bahan toksik? Mereka, atau maskapai brengsek yang bilang pesawatnya

laik terbang namun ternyata meletus begitu saja di udara? Siapa yang jorok dan siapa yang ‘jorok’?

Pertanyaan penting satu lagi: apa saja dampak-dampak buruk antara omong jorok dan ‘omong jorok’?

Jika diperbandingkan, mana yang lebih membahayakan kesejahteraan jiwa-raga manusia?

Saya sih setuju-setuju saja, Bro, dengan tata-krama dan aturan pergaulan menyangkut tabu-tabu dalam

berbicara. Tapi hanya sepanjang ia tak dijadikan meteran baku satu-satunya. Sepanjang tata-krama itu

tak menghalangi ekspresi alamiah yang murni; dan selama ia tak diperalat menjadi perangkat pengukur

moralitas di dalam inti kepribadian manusia. Reaksi jijik dan muak yang berlebihan terhadap omongan

jorok bisa jadi merupakan gejala awal ‘sakit-jiwa-feodal’, ‘sakit-jiwa-relijius’ dan segala

varietasnya. Sebab, di dunia yang demikian katro, niscaya ada lebih banyak objek lain yang lebih

rasional untuk dijadikan sasaran rasa jijik dan muak Anda.


Rugi, lho, kalau memupuk sinisme dan superioritas moral buat hal-hal ngga penting. Jadi, jangan

gampang bilang, ‘Yakh, tuh orang kotor banget bicaranya…sekolah ngga, sih? Nonton sinetron hidayah

ngga sih…? Ngga takut diazab, apa…? Mulut jenasah luka bakar tingkat tiga… . Kita khan harus

bermulut manis…manajemen kalbu…kasih…sayang…jagalah
hati…’.

Halaaah… .

Yah, demikianlah pada akhirnya, curhat norak ini hanya bermaksud sekadar memberikan cara pandang

alternatif: bahwa barangkali kebijaksanaan itu ialah suatu momen keinsafan ketika kita menilai bibir

dan mulut manusia hanya terhadap Angelina Jolie dan Tukul Arwana. Dan bahwa seluruh klausul dalam PP

Nomor 37 Tahun 2006 jauh lebih porno dari stensilan Enny Arrow.

Wasalam.
































































































































































































































































Kumpulan puisi Widji Thukul



Posted by fahmip in politik

Inilah kumpulan puisi perlawanan dari seorang penyair yang hilang di akhir kekuasaan Orde Baru, Widji Thukul. Semoga semangatnya tetap tinggal bersama kita menentang semua kezaliman dan ketidakberpihakkan pemerintah yang seharusnya menjadi pelindung rakyatnya, bukan jadi anjing yang senantiasa menggonggong dan mencabik - cabik.

Selamat Jalan Kawan !

==========================================================================

Seorang Buruh Masuk Toko

masuk toko
yang pertama kurasa adalah cahaya
yang terang benderang
tak seperti jalan-jalan sempit
di kampungku yang gelap

sorot mata para penjaga
dan lampu-lampu yang mengitariku
seperti sengaja hendak menunjukkan
dari mana asalku

aku melihat kakiku - jari-jarinya bergerak
aku melihat sandal jepitku
aku menoleh ke kiri ke kanan - bau-bau harum
aku menatap betis-betis dan sepatu
bulu tubuhku berdiri merasakan desir
kipas angin
yang berputar-putar halus lembut
badanku makin mingkup
aku melihat barang-barang yang dipajang
aku menghitung-hitung
aku menghitung upahku
aku menghitung harga tenagaku
yang menggerakkan mesin-mesin di pabrik
aku melihat harga-harga kebutuhan
di etalase
aku melihat bayanganku
makin letih
dan terus diisap..

E D A N

sudah dengan cerita mursilah?
edan!
dia dituduh maling
karena mengumpulkan serpihan kain
dia sambung-sambung jadi mukena
untuk sembahyang
padahal mukena tak dibawa pulang
padahal mukena dia taroh
di tempat kerja
edan!
sudah diperas
dituduh maling pula

sudah dengan cerita santi?
edan!
karena istirahat gaji dipotong
edan!
karena main kartu
lima kawannya langsung dipecat majikan
padahal tak pakai wang
padahal pas waktu luang
edan!
kita mah bukan sekrup

Bandung 21 Mei 1992

P E N Y A I R
jika tak ada mesin ketik
aku akan menulis dengan tangan
jika tak ada tinta hitam
aku akan menulis dengan arang

jika tak ada kertas
aku akan menulis pada dinding
jika aku menulis dilarang
aku akan menulis dengan
tetes darah!

sarang jagat teater
19 januari 1988

"Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan menganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: Lawan!"

"Suara - suara itu tak bisa dipenjarakan
Di sana bersemayam kemerdekaan
Apabila engkau memaksa diam
Aku siapkan untukmu:…..Pemberontakan !!"