27.4.10

senjaku adalah cintaku...


Sore yang seperti sebelumnya, selalu sama bahkan nyaris tak ada yang berubah. Hilir mudik para pekerja yang berjalan kaki, pedagang asongan, angkot yang berjejal yang seakan ingin melahap semua makhlik hidup yang ingin bergegas pulang. Sama seperti cahaya ini, merah kekuningan mendekati warna oranye. Hidup seolah tak pernah berputar walau kenyataan semua hal telah berubah. Terbangun dipagi hari bukan karena kewajiban kerja namun suara adzan yang terdengar nyaring ditelinga ini. Terkadang tinggal bersebelahan dengan musola kecil amat sangat mengganggu. Oke, mungkin mereka akan mengecap diri ini kafir biadab, dajjal masa kini, atau apalah yang terkesan berjiwa"iblis". Sempat kuberniat pindah dari kontrakan bobrok yang aku yakin jika ada angin kecil saja papan yang menjadi dinding rumah ini akan rata dengan tanah.

Lalu aku terpaksa terbangun, tak pernah terbesit dalam benak ini untuk bekerja sebelum matahari menampakkan cahayanya. Namun aku mempunyai penyakit yang cukup kronis. Jikalau aku sudah terbangun sulit untuk mataku ini terpejam lagi, dan menurutku itu sudah cukup kronis. Cap "kronis" yang aku buat sendiri, bukan dari lisan seorang dokter, bukan pula dari tulisan tangannya sang profesor berkepala botak. Boro-boro untuk kedokter atau konsultasi dengan profesor berkepala botak, lah wong buat makan sehari-hari saja aku harus mengayuh becakku ini. Demi anakku yang masih tertidur lelap. Aku selalu tersenyum bahagia jika melihat mereka berdua tertidur lelap. Kuusap keningnya anak pertamaku. Kubayangkan jika sang kakak kelak mampu menjadi seorang presiden atau menjadi seorang mentri, tak apalah
. Aku bosan dengan pemimpin negri ini. Yang ketika masa kampanye mereka sangat baik pada orang sepertiku. Memberiku beras, memberiku minyak goreng, uang, baju. Lalu setelah terpilih ia mengambil uang bermilyar-milyar, uang rakyatnya yang miskin. Aku akan mengajari sang kakak untuk selalu peduli kepada orang yang lebih "kecil", orang yang terhina, orang yang terpinggirkan, orang yang sudah tidak diperlakukan layaknya orang lagi. Agar kelak nanti sang kakak bisa menjadi seorang presiden atau mentri yang peduli akan manusia, bukan dengan uang. Lalu mataku berpaling ke sang adik. Aku selalu berharap jika ia besar nanti ia bisa menjadi seorang terkaya dinegri ini. Yang ketika ia mempunyai harta yang berlebih ia tidak menghamburkan uangnya dimeja sidang, tidak untuk para penjilat yang selalu menjilati pantatnya. Aku akan mengajari sang adik untuk lebih "melihat" sekitarnya. Bahwa kenyataan orang yang tinggal disebelahnya ini masih tidur beralaskan tikar, bahwa kenyataan masih makan dengan lauk garam dan sambal, bahwa kenyataan anak tetangga sebelahnya sering terbangun dan berkata pada emaknya, "mak aku lapar,". Bahwa kenyataan sang emak hanya berkata,"sabar yah nak...kita tunggu bapakmu pulang dulu,". Bahwa kenyataan hari itu bapaknya tidak pulang membawa uang sepeserpun.

Kembali kupandangi warna senja dijalan aspal. Wajahku tertunduk menatap bayang-bayang yang menutupi cahayanya. Kuangkat wajahku menatap langit agar pandanganku tidak tertutupi bayang-bayang yang mengganggu. Agar pandangan mataku terbebas menikmati hangatnya cahaya ini yang bercampur debu. Karena cahaya mentari bagiku adalah sebuah cinta. Hangat, begitu hangat seperti genggaman seorang kekasih yang begitu mencintai kita dengan sangat tulus. Seperti cintanya istriku pada raga dan jiwa ini. Seperti cintanya istriku kepada kedua buah hatiku yang kelak nanti akan menjadi presiden atau mentri dan menjadi orang terkaya dinegri ini. senjaku adalah cintaku...