1.4.10

bicara jorok dilarangkah???


Saya hidup dikelilingi manusia-manusia yang tidak menganut cara bicara aristokrasi Inggris. Bingung khan lo? Begini nih maksudnya: mereka suka omong jorok dalam segala situasi. Entah sedang girang atau gregetan, santai maupun uring-uringan, kata-kata jorok selalu dengan mudah ditemui dalam percakapan-percakapan. Dan tentu tak ada diantara kami yang berdarah biru Buckingham. Orang Inggris dan aristokratnya, terutama, terkenal sebagai penutur oral yang sopan. Dan ngga cuma Inggris, memang. Semua bangsawan di semua ras memiliki ciri ‘kehalusan’ tertentu menyangkut budaya-tutur. Semacam ada konvensi tak tertulis yang secara ketat mengatur pembawaan diri untuk berkomunikasi dengan orang lain; selain juga menyediakan rujukan kosakata-kosakata apa saja yang tercela dan yang tidak. Di luar konvensi itu: barbar. Ada begitu banyak kosakata yang haram untuk diucap oleh orang ‘sopan’ di muka umum. Mau saya rinci? Jangan, ah… . Muke lo khan umum. Jadi saya terpaksa harus membatasi ngomong jorok di catatan ini, tho. Lagipula Anda pasti sudah tahu kata-kata itu mencakupi apa saja—biasanya menyangkut organ dan kegiatan reproduksi, atau nama-nama hewan tak berdosa, atau kata-kata sifat jelek yang ekstrim dan benda-benda najis. Sebagai ganti, saya mau merinci ini saja: siapa sajakah pihak yang bermulut kotor?

Begini. ‘Kasta’ yang terendah ialah mereka yang menganut paham ngomong jorok sebagai tren. Atau sebagai gaya kotor? hidup. Yang termasuk golongan ini: ABG, misalnya. Atau pasangan yang terpengaruh bokep bajakan (di sini ngga ada bokep yang pake label resmi, Bro…), lalu jadi ikut-ikutan talking dirty during intercourse. ABG punya tipikal mencari-cari perhatian dari lingkungannya; makin jorok bicara, makin cool. Dapat dikatakan budaya omong jorok ini dianut dengan model yang sama-sebangun dengan cara mereka memilih kostum pesta. Makin jorok bicara, bakal makin kelihatan kaya rapper. Fak this fak that, syit this syit that. Udah kaya di Bronx saja. Contohnya macam sodara saya, seorang mahasiswa super sibuk mengklaim dirinya penganut agnostic dan sangat menghormati kedua orang tuanya, berinisial AJP....
Semua kata benda di kalimat-kalimat dari mulutnya pasti selalu diimbuhi kata cuki e ini cuki e itu. Pas bokek dia rutin merayu, ‘Yow, iwan…, c’mon yow lend me some fakin recehan goban... bla-bla-bla…’ . Lain waktu kalau tititnya atit akibat over fitness, dia pasti mengutuk mengutuk fakin dick! fakin dick! fakin ulekan! Astaghfirullah… . Padahal jelas-jelas karena fitnes di saat badannya lagi kurang fit. atau pernah suatu kali dia sakit gigi dan cuki gigi eeeee, puki eee gigi saki ee... (mmm... mana ada sih gigi yang bisa senggama.???))

Di kasta kedua terdapatlah kaum moderat. Yaitu penutur jorok yang memang biasa ngomong jorok sebagai bagian dari ekspresi kebudayaan egalitarian (aduhai, rancak nian bahasanya…). Saya barangkali termasuk di sini. Sebab, seperti saya katakan tadi, saya dibesarkan di keluarga yang punya tradisi lisan rada-rada jorok yang jauh dari standar aristokrasi. Saya ingat sekali dulu nenek saya mengomel-ngomeli kelinci peliharaan di rumah pakai bahasa daerah jika si kelinci makan terlalu rakus. ‘woi…, kelinci biadab,. cu(sensor)mai!’ (Tadinya saya pikir kelinci ini dikutuk biar kena sakit kolera di pantatnya. Belakangan baru saya paham bahwa arti kalimat itu ternyata jauh lebih grindcore dari yang saya duga. Benar-benar sadis… Saya sendiri akan menegur teman saya kalau mereka ketahuan mojok dengan sindiran, ‘Je(sensor)ut baru tiga lembar aja udah sok mau pacaran lo…’—merujuk pada rumpun rimbun tertentu di bawah perut.
Maaf kalau vulgar. Tapi menurut saya hal ini tidak jorok, lho. Ini ekspresi budaya, kawan. Tradisi umum di kalangan rakyat biasa macam saya. Gampang ditemukan. Coba main saja ke Condet. Atau keCiganjur, (daerah kawan saya duluuu banget). Keduanya enclave komunitas Betawi yang luas. Perhatikan saja dialog para emak dan engkong yang ngrumpi di teras-teras. Wuih, dahsyat belaka, Bro… . Pemilihan diksi-nya itu loh…alih-alih kecil, itil; alih-alih tegak, ngaceng. Diantara kaum emak-emak, teman ibu kos saya mak ijah (keturunan betawi tinggal di sleman), niscaya paling pantas bergelar+ Ph.D dalam ilmu ngomong jorok. Beliau masuk Hall of Fame di di otak saya. Semacam thesaurus hidup yang memberikan semua entri vocabulary jorok yang pernah beredar di bumi jakarta sepanjang sejarah. Terakhir, Idul Adha kemarin teman beliau sempat bikin kekacauan kecil saat dengan polosnya berteriak-teriak di depan publik, ‘Oy, entu bandot nyang item peler-nya buat gua, peler-nya buat gua oooy!’ (…yang mana teriakan tersebut sedikit masuk ke Toa masjid…) Dan tentu saja, beliau latah. Latahnya ini berstruktur, lho. Maksudnya begini: beliau melafalkan kata klasiknya—yaitu apalagi kalau bukan ‘ko(sensor)ol’—hanya jika kaget atau dikageti oleh suara/bunyi non-artikulatif, seperti bunyi mangkok pecah, balon meledak, atau suara orang sengaja mau ngagetin dengan teriak HWA! atau JGER!!! Maka, musim hujan ini saban terkejut-kejut karena bunyi geledek beliau akan melagukan litani andalannya, ‘Eh, ko(sensor)ol—ko(sensor)ol—
ko(sensor)ol—ko (sensor)ol…’ . Namun sebaliknya bila beliau sengaja dikageti dengan bunyi artikulatif, maka beliau akan otomatis /mengulang suku-suku-kata terakhir yang diucapkan lawan bicaranya itu. Contohnya, kalau orang bicara, “…bener ape kaga, NYAK???”—dengan berteriak penuh pada kata ‘nyak’—maka beliau akan melatah, ‘Eh, enyak—enyak—enyak, dah enyaaak…’
“KUTIL!!!”

‘Eh, kutil—kutil—kutil, dah—kutiiil…’.

Dengan basis saintifik inilah (caelah…), saya sering memanfaatkan beliau dengan culas. Kalau saya minta didoakan oleh beliau, saya akan bilang, ‘Nyak, doain gue bulan ini dapet fulus banyak biar kapan ari gituh gue bisa naek aji ya, Nyak. Doain nenek gue tetep sehat keja masi bisa joged ya, Nyak.
Lalu saya bentak, ‘AMEEEN!!!’
‘Eh, amin—amin—amin, dah—amiiin…’. (Rumusnya, makin banyak dikasih amin, doa akan makin mujarab)
(sisipan sejenak, by the way, Anda kenal istilah onomatopi? Nih, ada bahan tambahan buat pengetahuan umum Anda: onomatopi ialah pola atau proses pembentukan kata yang memakai pendekatan bebunyian dari kegiatan objeknya. Misalnya dalam ‘nyamuk mendengung’. Kata ‘dengung’ ini onomatopik. Begitu pula kodok ‘mengorek’. Adik sedang ‘cebok’. Ayah ‘cepirit’, ibu ‘menabok’. Dan sebagainya. Nah, di daerah bantul ini, aktivitas seksual di-onomatopi-kan jadi ‘timplik' tau deh dari mana dan dengan logika apa frasa itu tersusun. Saya bukan ahli bahasa, Bro)Lebih jauh, sebagai ekspresi budaya, omongan kasar dan jorok dari arek Surabaya—atau daerah pemangku sub-kultur-non-keraton lainnya—juga dapat dijadikan rujukan. Kita tahu dalam hal arek ketemu arek, pembicaraan yang terjadi selalu jauh dari suasana formal. Segala jenis satwa, anunya si ini, anunya si itu, jaancuk, ndhas-mu etc akan spontan keluar begitu pula di maluku tempat asal saya, hei kawan, cuki ee beta beta cari ale dari tadi ni sampe cape e (kurang lebih semacam itu). Hal ini bukan pencederaan norma, bahkan sebaliknya justru tanda keintiman hubungan sosial antar kawan. Sebuah kekayaan budaya yang ngga gampang dimengerti oleh mereka yang bergelar ‘Sir’ sekalipun. Berlanjut ke strata ketiga. Strata yang ketiga ialah: mereka yang ngomong jorok sebagai ‘parodi kemanusiaan’. Nah, ini yang rada berat, Bro. Susah banget menjabarkan konsepnya. Tapi singkatnya begini: mereka ialah pihak yang memiliki wawasan kebahasaan yang luas dan sekaligus memasabodokan konvensi umum tentang cara-cara dan norma-norma manusia berbicara. Lebih singkat lagi: kaum nyentrik dan parodik.


Di jajaran ini, kalau kita mau jauh-jauh menggali khasanah literatur esoterik, kita akan ketemu para filsuf bahasa, guru-guru besar Zen, para sufi, komedian-komedian atau ilmuwan-ilmuwan sinting—yang piawai mengajarkan bahwa sistem-bahasa ngga punya juntrungan eksak dengan makna; dan ngga terikat secara abadi dengan substansi yang ‘ditandai’-nya. Beberapa dari teks-teks mereka amat sangat jorok jika dinilai dengan standar ‘moral’ konvensional (baca: standar hipokrit yang dibiuskan dan dipasarkan televisi Indonesia).
(Maapin gue, ye… . Elu-elu pan udah pada tau, kalo gue ngomong tinggi kaya gini, itu artinye gue
pengen begaya… . Dan jika Anda tak mengerti bulshit-an saya yang terakhir ini, main dong sekali-kali ke perpustakaan. Atau lebih instan-nya, hadirilah Ma’iyah Kyai Kanjeng yang rutin diselenggarakan setiap bulan, tanggal 17, di Kasihan, Bantul, Jogjakarta. Di sana sedikit-banyak Anda bisa merasakan ‘atmosfir kemerdekaan berbahasa’—sebuah upaya komunikasi yang jorok namun sarat dengan isu kebudayaan)

Well, that’s that’s it about people talking dirty. Sekarang pertanyaannya ialah: apakah sebenarnya sifat ‘jorok’ itu? Saya beranggapan, omong jorok ialah bukan harfiah semata-mata berupa tindak menyebutkan kata-kata yang disensor seperti di atas itu. Saya punya pengertian lain yang lebih konotatif tentang jorok. Menurut saya ‘jorok’ artinya hanya satu: manipulatif. ‘Jorok’ sangat berbeda dari jorok biasa. Ngomong ‘jorok’ adalah segala bentuk komunikasi yang penuh manipulasi. Meliputi berbohong, berpura-pura dan ber-eufimisme.
Sodara saya AJP dan tetangga kawan si ibu kos, mak ijah, suka bicara kotor; apakah hal itu menandakan kebobrokan jiwa, karena substance kekotoran memroyeksikan dirinya dalam bentuk ucapan-ucapan lahir yang tak senonoh itu? Apakah mereka asosial, karena melanggar norma kesopanan? Saya rasa tidak demikian. Subjektif, mereka orang-orang jujur yang amat jarang berdusta. Kalau saya, jelas sekali saya ‘jorok’, sebab saya masih setia memupuk hobi berbohong dan suka bicara seenak udel. Entah itu white lie, black lie, grey lie, ganggangsulai etc—pokoknya saya doyan ngibul, titik. Saya merasa diri ‘jorok’ karena saya percaya indikator sejati tentang ‘kejorokan’ selalu melekat pada ‘substansi’.
Mak ijah memang suka ber-kontol-kontol-ria (pliz…, terimalah kata-kata ini dengan lapang dada, kawan…hehehe). Tapi beliau selalu jujur bersikap dan berkata-kata pada siapapun. Kalau dirasanya seseorang tak membuat nyaman, dengan lugas beliau akan menunjukkan sikap antipati—tanpa seni hipokrisi yang dibuat-buat sebagaimana yang biasa kita temui dalam situasi seorang profesional public relation berhadapan dengan customer rewel yang banyak menuntut macam-macam. Beliau tak akan pernah berlindung dalam senyum komersial para frontliners perusahaan-perusahaan jasa yang kinerjanya buruk (yang mungkin menganggap semua pelanggan, terutama yang laki-laki, akan mudah dijinakkan dan ogah complain demi seulas senyum perempuan). Karena itu Mak Ijah tak harus mengikuti kursus-kursus kepribadian untuk mendapatkan ‘kemanusiaan’-nya—karena menjadi beradab punya arti tak sesederhana
sekadar tidak ngomong jorok.

Mak Ijah jelas bukan bangsawan Inggris. Dia buta table-manner, dan warna kulitnya sekelam karbon. Kalau sedang kesal ya dia ngomong jorok, dong. Straight. Tanpa basa-basi protokoler. Langsung saja ngentat-ngentot, fokang faking. Bandingkan dengan Sir-Sir bule itu. Se-mangkel-mangkel-nya, paling banter mereka akan berucap, ‘Semoga lumpur terpercik ke wajahmu…’. Itu sudah merupakan pengungkapan yang sangat kasar. Klab-klab rotary mereka senantiasa menjadi ajang bertata-krama, smart conversations, basa-basi sanjung-sanjungan, sementara hati penuh intrik-intrik persaingan bisnis untuk dulu-duluan menangguk untung dengan mengibuli elit-elit di tanah jajahan, menumpahkan darah. Kibul sana kibul sini. AJP? Ah, dia mah cemen. Dia ngga pernah sampai hati ngibulin pacarnya sendiri. maki anak kecil di jalanan di kota ambon aja mikir2. Teladani Bush. Kepala negara dan kepala pemerintahan negara lain selalu punya kesan bahwa Bush seorang gentleman. Pria yang alim, hangat, supel dan sopan dalam interaksi personal. Mulutnya akrab dengan Gospel-Gospel, Tuhan menyertai Amerika. Tapi dikadalinya seluruh dunia dengan fitnah atas
sistem persenjataan Baghdad. Ia sampaikan apologi dusta setelah 9/11, sambil enak-enakan wakuncar ke Camp David, sambil Laura mem-blowjob-nya di kamar mandi. Tangan yang kiri menggenggam kontrak minyak sedang yang kanan memijat tombol mesin pembunuh 655 ribu warga sipil Irak yang tak punya salah apa-apa pada nenek moyangnya. Duh, Gusti, ngga akan ada satu kata nista terjorok yang bisa mengapresiasi ‘kejorokan’ ini.

Jadi, mana yang lebih jorok, AJP dan tetangga kawan si ibu kos, mak ijah, atau para caleg yang

janjinya manis saat kampanye? Mereka, ataukah seorang pemimpin satu negara miskin yang mengingkari

janji bantuan untuk para korban sebuah gempa yang menewaskan 5000 jiwa lebih? Mereka, atau iklan

suatu produk yang mengandung bahan toksik? Mereka, atau maskapai brengsek yang bilang pesawatnya

laik terbang namun ternyata meletus begitu saja di udara? Siapa yang jorok dan siapa yang ‘jorok’?

Pertanyaan penting satu lagi: apa saja dampak-dampak buruk antara omong jorok dan ‘omong jorok’?

Jika diperbandingkan, mana yang lebih membahayakan kesejahteraan jiwa-raga manusia?

Saya sih setuju-setuju saja, Bro, dengan tata-krama dan aturan pergaulan menyangkut tabu-tabu dalam

berbicara. Tapi hanya sepanjang ia tak dijadikan meteran baku satu-satunya. Sepanjang tata-krama itu

tak menghalangi ekspresi alamiah yang murni; dan selama ia tak diperalat menjadi perangkat pengukur

moralitas di dalam inti kepribadian manusia. Reaksi jijik dan muak yang berlebihan terhadap omongan

jorok bisa jadi merupakan gejala awal ‘sakit-jiwa-feodal’, ‘sakit-jiwa-relijius’ dan segala

varietasnya. Sebab, di dunia yang demikian katro, niscaya ada lebih banyak objek lain yang lebih

rasional untuk dijadikan sasaran rasa jijik dan muak Anda.


Rugi, lho, kalau memupuk sinisme dan superioritas moral buat hal-hal ngga penting. Jadi, jangan

gampang bilang, ‘Yakh, tuh orang kotor banget bicaranya…sekolah ngga, sih? Nonton sinetron hidayah

ngga sih…? Ngga takut diazab, apa…? Mulut jenasah luka bakar tingkat tiga… . Kita khan harus

bermulut manis…manajemen kalbu…kasih…sayang…jagalah
hati…’.

Halaaah… .

Yah, demikianlah pada akhirnya, curhat norak ini hanya bermaksud sekadar memberikan cara pandang

alternatif: bahwa barangkali kebijaksanaan itu ialah suatu momen keinsafan ketika kita menilai bibir

dan mulut manusia hanya terhadap Angelina Jolie dan Tukul Arwana. Dan bahwa seluruh klausul dalam PP

Nomor 37 Tahun 2006 jauh lebih porno dari stensilan Enny Arrow.

Wasalam.