7.4.10

romeo and juliet


Romeo dan Juliet merupakan contoh kisah cinta yang sempurna di kebudayaan barat. Bagaimanapun, dari pandangan yang cukup berbeda, kisah ini menjadi cerita inspiratif tentang dampak dari kebanggaan, kebencian dan peperangan. Kematian dua anak muda yang saling mencintai menampilkan keduanya sebagai hukuman dan pengorbanan—camkan setting tanah suci dan adanya tanda salib dan darah, seperti halnya masa muda si korban—yang menebus dosa ayah-ayah mereka. Kekuatan tragis pengorbanan yang sangat berharga ini mengalahkan perseteruan keluarga yang membenci satu sama lain dan paling tidak mempertimbangkan genjatan senjata sementara. Jika kita mengangkat topik tentang perang saudara, dan bukan potret tentang cinta ideal yang menjadi tema sentral Shakespeare, maka Montague dan Capulet adalah tokoh protagonis. Permusuhan mereka menentukan tahapan munculnya kejadian fatal yang akhirnya menghancurkan putera-puteri mereka. (Permusuhan mereka menjelma menjadi wajah bengis yang akhirnya menghancurkan putera-puteri mereka).

Kebencian antar tokoh senior Verona ditampilkan tanpa menjelaskan asal muasalnya dan langsung ditampilkan tanpa masuk akal (absurd) oleh istri-istri mereka dengan melarang mereka membunuh sesamanya, Lady Capulet yang mencegah suaminya, ‘Kruk, kruk (kayu penyangga)! Kenapa kamu meminta pedang?’ (1,i, 83). Hal ini juga ditampilkan serius oleh pangeran yang menetapkan hukuman mati karena berkelahi di jalanan Verona. Hal tersebut adalah kecongkakan ayah-ayah mereka yang keras kepala dan penolakan mereka untuk menyampingkan perbedaan mereka, bahkan kemudian penyebab perselisihan seperti dilupakan yang akhirnya berimbas kematian dua kekasih itu. Kesalahan karakter menjadi milik generasi paling tua, seperti halnya dalam tragedi puncak.

Perilaku ayah Romeo dan Juliet berkenaan dengan setiap perbedaan mereka secara jelas dibandingkan dengan perangai mereka pada keturunannya. Meski pengawasan Capulet pada puterinya menjadi sangat sering dalam satu adegan (3,v,142ff), kesungguhan cintanya pada sang puteri terus berlanjut. Ketulusan dan pengendalian dalam ucapannya, ketika mendapati puterinya meninggal di kamarnya menandakan kedalaman kasih sayang Capulet pada anaknya. (4,v,25ff).

Hal tersebut hanyalah bentuk ketulusan cinta seorang Capulet dan Montague pada anak-anaknya yang memanusiakan mereka dan menghindarkan mereka menjadi tokoh jenaka. Meskipun hanya perawat yang menceritakan kisah sentimentil penyapihan Juliet dan penurunannya sebagai seorang anak kecil (1,iii,11), gambaran ini memperkuat persepsi audiens tentang karakternya sebagai objek anak muda atas kasih sayang orang tua. Dalam segala hal, di samping kesungguhan cintanya pada Romeo, dia hanyalah seorang anak kecil dan anak yang tinggal dengan orang tuanya (1,ii,14).

Ketika Paris kali pertama meminta kesediaan Juliet, sangat jelas bahwa ayahnya—seperti pada banyak kasus tentang/yang sering terjadi pada anak perempuan di Eropa pertengahan (dan juga dalam periode romantisme kesusasteraan)—tidak melihat dia hanya sebagai upaya kemajuan sosial. Dia bahkan dia menyatakan bahwa dia lebih cenderung memberikan pilihan pada anak perempuannya yang berusia tiga belas tahun tentang masalah suami. Satu-satunya alasan dia pada kesungguhan sikap liberalnya ini dikarenakan kasih sayangnya pada puterinya.

Perhatian Montague pada kegundahan puteranya di permulaan babak (drama) pertama pun menunjukkan kelembutan yang tulus dari pihak ayah yang dia pertahankan sepenuhnya. Dengan membandingkan puteranya seperti ‘tunas yang digerogoti cacing yang cemburu/Kelak dia dapat menyebarkan dedaunannya yang indah ke udara,’ dia membela Benvolio muda, ‘Masih bisakah kita belajar dari mana duka citanya timbul/Kita akan dengan dengan sepenuh hati memberikan penyembuh yang kita ketahui’ (1,I,157).

Montague adalah sosok ayah yang melewati standar modern tentang sensitifitas orang tua. Tanggapan dia pada kerusuhan remaja puteranya mungkin berbeda dengan hubungan Henry IV dengan pangeran Hal. Bagian Pertama drama Henry IV dibuka dengan pangeran yang tengah mengalami tahap asusila yang parah. Keluhannya jauh berbeda dari Romeo, tetapi hal tersebut bukan karena kurangnya kedewasaan (sekalipun Hal mungkin lebih tua dari Romeo). Bagaimanapun, ayahnya melakukan pendekatan hubungan orang tua masa Elizabethan yang lebih konvensional, mengingatkan Hal akan tugas filialnya (sebagai seorang anak) dan memintanya dengan tegas agar dia berbuat baik dan berlaku benar (3,ii,4ff).

Barangkali masalah tanggung jawab masih sangat relevan/terkait bagi seorang ahli waris singgasana kerajaan daripada pasangan pemuda-pemuda Italia, dan hal ini sebagai alasan bahwa Raja fokus kepada serangan Hal pada dirinya dan reputasinya sendiri. Sementara Montague hanya prihatin terhadap kebahagian puteranya. Setidaknya, hal tersebut adalah tampaknya rasa kasih sayang Montague pada/hal tersebut adalah bukti seorang Montague begitu memanjakan Romeo yang membuat tragedi kematian Romeo lebih sebagai tragedi Montague daripada Romeo. Betapapun, simpulan sempurna seperti apakah yang bisa diharapkan seseorang dari cinta yang sempurna daripada untuk mengagungkan keabadian di sisi sesama? Hal tersebut adalah orang tua mereka yang hancur ditinggalkan dengan hilangnya segala tempat harapan mereka. (1,ii,14)

Mungkin Shakespeare, di balik perang saudara antara Montague dan Capulet, berniat menyajikannya sebagai latar belakang atas gambarannya tentang perjalanan tragis sebuah cinta yang ideal. Atau mungkin dia, di balik kematian dua anak muda, berniat menunjukkannya sebagai konsekuensi tragis dari kebencian yang tak kunjung usai. Dia sendiri adalah kedua pecinta tersebut yang menulis soneta, sekaligus seorang ayah dari anak muda dan dia mampu memaparkan kedukaan setiap tragedi. Barangkali dia paham tema lakon akan berubah ketika kita, sang audiens, bertambah dewasa, ketika kita menjadi kurang yakin bahwa gairah masa muda adalah akhir segalanya dan seluruh eksistensi (keberadaan), ketika kita tidak rela memaafkan Friar Lawrence yang melakukan penipuan pada orang tua Juliet.(4,v,33) Tetapi hal ini akan mengasumsikan bahwa dia menulis demi anak cucu daripada terpenuhinya persyaratan/kebutuhan tahapan Elizabethan. Hal ini ada kemungkinan bahwa dia telah memandang drama sebagai keutuhan organik, dengan tanpa kebencian orang tua pada orang tua, cinta orang tua pada sang anak, maupun cinta sang anak pada anak sebagai hal yang paling utama/tidak ada yang terdepan, baik itu kebencian antar orang tua, cinta orang tua pada sang anak maupun cinta antar sang anak. Seagung-agungnya emosi manusia, ia tidak pernah berlaku di ruang hampa.

Shakespeare, William. ‘Romeo and Juliet.’ Five Tragedies. Ed. C.H. Hereford. Arden Shakespeare. London: D.C. Heath, 1916. v-235.