Aku mengikuti beberapa langkah dibelakangnya. Tak terbesit untuk mendahuluinya dan tak juga mau tertinggal jauh. Hanya menjaga jarak. Sesekali dia menoleh kebelakang, memastikan aku tetap berada dibelakangnya. Senyumannya ketika ia menoleh masih teringat jelas hangga kini. Tak ada bulan maupun bintang yang menyaksikan kisah ini. Hanya angin bertiup pelan yang menandakan sebentar lagi akan turun hujan.
Aku tidak hanya memperhatikan langkah jalannya saja. Setiap langkah hidupnya selalu menarik untukku. Setiap kali ia berbicara tak pernah sedikitpun dusta yang terucap. Setiap kali ia mendengarkan selalu dengan kesungguhan. Seolah-olah mengatakan, "i'm still here for you". Tentu dengan tatapan matanya yang tajam dan dalam. Seperti anak panah yang menancap kedalam pikiranku. Merubah perasaan ini menjadi cinta. Mungkin cinta seorang remaja berusia usia 16 orang menyebutnya dengan sebutan 'cinta monyet'. Tapi tak peduli!!! Aku hanya berpikir mereka hanya iri melihat trouble maker berubah menjadi good boy. Cowok urakan 'semau gue' menjadi anak remaja yang sopan dan manis. Hanya karena mengenal gadis berusia 15 tahin.
Langkahku kuhentikan tepat didepan pagar rumahnya. Setelah ia dan temannya masuk terlebih dahulu. Dan membiarkan aku sendiri, membiarkan aku menanti. Disaat seperti ini waktu berjalan sangatlah lambat. Detik perdetik, menit permenit seirama dengan denyut nadi. Berbaur dengan rasa khawatir, galau, takut, atau penyesalan karena telah mengungkapkan isi hati ini secara jujur. Hanya tinggal jawaban yang mungkin bisa membuatku terdiam berhari-hari karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Atau yang membuatku menjadi remaja paling bahagia dan beruntung karena telah mendapatkan cintanya.
Air dari awan sedikit demi sedikit mulai turun. Hanya rintik. Aku masih sanggup menahannya. Tak lama pintu rumahnya terbuka. Wajah tanpa rasa. Seperti pembunuh berdarah dingin. Seolah-olah siap menghunuskan pisaunya tepat dijantung hatiku. Sedetik kemudian 'wajah tanpa rasa-nya' telah dihiasi senyum kecil kletika mendekatiku. Dengan penuh keberanian aku menggenggam tangannya. Suara dedaunan dari pohon angsana yang tertiup angin bercampur dengan rintik hujan, bau tanah yang basah mulai tercium. Namun aku masih terasa hangat karena menggenggam tangannya.
Aku mulai bersuara, namun yang keluar hanyalah ucapan yang terbata-bata. Dan seolah mengerti ia membalas genggaman tanganku dengan lebih erat dan kencang.
"..."
Hanya hening.
"Aku juga sayang kamu..."
Sejak saat itu aku selalu suka rintik hujan, suara dedaunan yang tertiup angin juga bau tanah yang basah oleh rintik hujan. Yang bisa membuatku terdiam lalu tersenyum mengingat cinta pertama.
:)
